HATI-HATI PADA DO’A ORANG2 YANG TERDZOLIMI

KH. Drs. Marzuki Mustamar, M.Ag *)

Ittaquu da’watal madzhlum, fainnahu laisa bainahu wa bainallaahi hijaabun.
Takutlah kalian terhadap do’anya orang yang didzholimi. Karena sesungguhnya antara do’anya dengan Allah tidak ada hijab (penghalang).
Perbuatan, ucapan dan upaya apapun, baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi yang dimaksudkan untuk menyakiti orang lain, merugikan orang lain, mendzholimi orang lain dan menindas orang lain adalah perbuatan dosa. Perbuatan dzolim tersebut bisa mengancam eksistensi keimanan ataupun keislamaman seseorang. Sebab, orang yang betul-betul beriman tidak akan melakukan kedzaliman. Sebaliknya dia akan melakukan orang lain sebaik-baiknya, seperti halnya dia melakukan pada diri sendiri.
Tentang hal ini, Rasululah SAW sudah memberikan tuntunan. Beliau bersabda: ‘’Tidaklah sempurna iman seorang diantara kalian, sampai ia mencintai saudaranya seperti halnya mencintai dirinya sendiri.’’
Dalam hadits yang lain disebutkan bahwa iman seseorang tidak akan sempurna selama tetangganya, orang-orang dekatnya dan masyarakat disekitarnya tidak merasa aman dari keburukan dirinya.
Konsekwensi sebagai orang mukmin selain menata hablum minallah, ibadah kepada Allah sebaik-baiknya, dia juga harus menjalin hablum minannaas. (menata hubungan dengan sesama manusia dan alam sekitarnya).
Pada hakikatnya, berbuat baik kepada sesama manusia dan alam sekitar itupun kebaikannya akan kembali kepada kita sendiri. Sebab berbuat baik atau tidak mendzholimi orang lain semua itu juga dalam rangka mendukung, mempermudah dan mengupayakan terciptanya kondisi yang baik, sehingga kita bisa merasa lebih aman, lebih nyaman dan lebih khusyu’ dalam beribadah kepada Allah.
Apabila ada orang yang ahli ibadah, ahli salat, tapi musuhnya banyak, pesaingnya, sering mendapat hinaan, dan ancaman dari orang lain karena dia sendiri tidak menjalin hubungan baik dengan orang lain itu bahkan sering berbuat dzolim kepada mereka, tentu orang tersebut salat dan ibadahnya tidak bisa tenang, tidak bisa berjama’ah dengan tertib, berdzikir dengan mereka. Demikian juga dengan ibadah yang lainnya.
Semua keluarga, tetangga dan masyarakat, akan menerima dengan baik orang yang tidak pernah mengganggu atau merugikan orang lain, lebih-lebih yang dapat memberikan manfaat, mashlahat, bantuan kepada orang lain. Orang yang seperti ini, sahabatnya banyak, pendukungnya banyak, diakrabi orang banyak, sehingga kehidupanya bisa mulus, tanpa ada umpatan, cercaan, fitnah dan semacamnya. Dengan begitu, insya Allah orang seperti ini ketika ibadah, salat akan lebih anteng, tenang dan khusyu’.
Aspek yang tidak kalah penting adalah citra Islam. Kalau perilaku kita baik, senantiasa memberikan manfaat, maka akan semakin banyak orang yang teratik kepada Islam. Orang awam akan mendengarkan nasehat kita, mengikuti langkah dan jejak kita, bahkan yang non muslim pun akan tertarik masuk Islam. Dan inilah bagian dari dakwah, ajakan kepada ajaran Islam. (yad’uuna ilal khairi).
Sebaliknya, kalau kita kasar, tidak menjaga perasaan orang lain, tidak bertata krama (unggah-ungguh), tidak memberi manfaat bahkan mudharat bagi orang lain, maka orang tidak akan simpati pada kita, dan kita pun tidak lagi didengar dan ditiru oleh mereka bahkan bisa jadi tida direken orang lain. Orang non muslim juga tidak akan tertarik, bahkan bisa jadi orang muslim yang awam akan tertarik dengan agama lain. Kalau ini terjadi, kiamatlah dakwah Islam.
Karena itu, perbuatan dholim, merusak atau merugikan orang lain, menyebabkan, ibadah kita tidak tenang, tidak khusyu’, menyebabkan kita jauh dan dijauhi orang lain, menimbulkan fitnah dan permusuhan bahkan bisa menimbulkan kiamatnya dakwah kita yang ditandai dengan banyaknya orang awam yang pindah ke agama lain (murtad), maka sudah seharusnya dan sangat pantas kalau perbuatan seperti itu dihukumi haram. Dan do’a-do’a orang yang dholim itupun tidak dikabulkan.
Sebaliknya mereka yang didzholimi, diancam dan ditindas oleh mereka yang kuat, mereka akan merasa tidak ada tempat berlindung, tempat berharap kecuali hanya kepada Allah. Karena ketika akan mencari perlindungan kepada penguasa tidak mungkin, lha penguasa itu juga yang mendzholimi. Nah, di saat yang didzholimi itu sampai pada kesadaran bahwa dia hanya bisa berlindung dan berharap kepada Allah, lalu dia bedo’a, maka saat itulah doa’anya akan dikabulkan.
Sebab, do’a yang peluang dikabulkannya besar, diantaranya adalah do’a yang betul-betul dimohonkan kepada Allah dengan kesadaran dan keyakinan bulat bahwa hanya Allah yang bisa mengabulkan. Sebagaimana perintah Kanjeng Nabi: “Kalau kamu meminta mintalah kepada Allah, dan kalau kamu mohon pertolongan, mohonlah kepada Allah”. 
Karena itu jangan sampai kita mendzholimi orang lain, sebab, kalau sampai mereka tidak terima, lalu mereka mendo’akan kita dengan kecelakaan, maka kita bisa celaka, cepat atau lambat, sebab do’a mereka mustajab, tidak terhalang lagi. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *